Rabu, 06 Juli 2011

Konsep Dasar Terjadinya Penyakit

Suatu penyakit timbul akibat dari beroperasinya berbagai faktor baik dari agen, induk semang atau lingkungan. Bentuk ini tergambar didalam istilah yang dikenal luas dewasa ini. Yaitu penyebab majemuk (multiple causation of disease) sebagai lawan dari penyebab tunggal (single causation).

Didalam usaha para ahli untuk mengumpulkan pengetahuan mengenai timbulnya penyakit, mereka telah membuat model-model timbulnya penyakit dan atas dasar model-model tersebut dilakukan eksperimen terkendali untuk menguji sampai dimana kebenaran dari model-model tersebut.

Tiga model yang dikenal dewasa ini ialah 1) segitiga epidemiologi (the epidemiologic triangle) 2) jaring-jaring sebab akibat (the web of causation) dan 3) roda (the wheel).

1.1 Segitiga Epidemiologi (lihat gambar)

1.2 Jaring-Jaring Sebab Akibat

Menurut model ini perubahan dari salah satu faktor akan mengubah keseimbangan antara mereka, yang berakibat bertamba atau berkurangnya penyakit yang bersangkutan. (lihat gambar)

Menurut model ini, suatu penyakit tidak bergantung pada satu sebab yang berdiri sendiri melainkan sebagai akibat dari serangkaian proses sebab dan akibat. Dengan demikian maka timbulnya penyakit dapat dicegah atau dihentikan dengan memotong mata rantai pada berbagai titik.

1.3 Roda

Seperti halnya dengan model jaring-jaring sebab akibat, model roda memerlukan identifikasi dari berbagai faktor yang berperan dalam timbulnya penyakit dengan tidak begitu menekankan pentingnya agen. Disini dipentingkan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Besarnya peranan dari masing-masing lingkungan bergantung pada penyakit yang bersangkutan.

Sebagai contoh peranan lingkungan sosial lebih besar dari yang lainnya pada stress mental, peranan lingkungan fisik lebih besar dari lainnya pada sunburn, peranan lingkungan biologis lebih besar dari lainnya pada penyakit yang penularannya melalui vektor (vektor borne disease) dan peranan inti genetik lebih besar dari lainnya pada penyakit keturunan.

Dengan model-model tersebut diatas hendaknya ditunjukkan bahwa pengetahuan yang lengkap mengenai mekanisme-mekanisme terjadinya penyakit tidaklah diperuntukkan bagi usaha-usaha pemberantasan yang efektif.

Oleh karena banyaknya interaksi-interaksi ekologis maka seringkali kita dapat mengubah penyebaran penyakit dengan mengubah aspek-aspek tertentu dari interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya tanpa intervensi langsung pada penyebab penyakit.

2. Penyakit Menular

Yang dimaksud penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan (berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain, baik secara langsung maupun melalui perantara). Penyakit menular ini ditandai dengan adanya (hadirnya) agen atau penyebab penyakit yang hidup dan dapat berpindah.

Suatu penyakit dapat menular dari orang yang satu kepada yang lain ditentukan oleh 3 faktor tersebut diatas, yakni :
a. Agen (penyebab penyakit)
b. Host (induk semang)
c. Route of transmission (jalannya penularan)

Apabila diumpamakan berkembangnya suatu tanaman, dapat diumpamakan sebagai biji (agen), tanah (host) dan iklim (route of transmission).

2.1 Agen-Agen Infeksi (Penyebab Infeksi)

Makhluk hidup sebagai pemegang peranan penting didalam epidemiologi yang merupakan penyebab penyakit dapat dikelompokkan menjadi :
a. Golongan virus, misalnya influenza, trachoma, cacar dan sebagainya.
b. Golongan riketsia, misalnya typhus.
c. Golongan bakteri, misalnya disentri.
d. Golongan protozoa, misalnya malaria, filaria, schistosoma dan sebagainya.
e. Golongan jamur, yakni bermacam-macam panu, kurap dan sebagainya.
f. Golongan cacing, yakni bermacam-macam cacing perut seperti ascaris (cacing
    gelang), cacing kremi, cacing pita, cacing tambang dan sebagainya.

Agar supaya agen atau penyebab penyakit menular ini tetap hidup (survive) maka perlu persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
a. Berkembang biak
b. Bergerak atau berpindah dari induk semang
c. Mencapai induk semang baru
d. Menginfeksi induk semang baru tersebut.

Kemampuan agen penyakit ini untuk tetap hidup pada lingkungan manusia adalah suatu faktor penting didalam epidemiologi infeksi. Setiap bibit penyakit (penyebab penyakit) mempunyai habitat sendiri-sendiri sehingga ia dapat tetap hidup.

Dari sini timbul istilah reservoar yang diartikan sebagai berikut 1) habitat dimana bibit penyakit tersebut hidup dan berkembang 2) survival dimana bibit penyakit tersebut sangat tergantung pada habitat sehingga ia dapat tetap hidup. Reservoar tersebut dapat berupa manusia, binatang atau benda-benda mati.

Reservoar didalam Manusia

Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoar didalam tubuh manusia antara lain campak (measles), cacar air (small pox), typhus (typhoid), miningitis, gonoirhoea dan syphilis. Manusia sebagai reservoar dapat menjadi kasus yang aktif dan carrier.

Carrier

Carrier adalah orang yang mempunyai bibit penyakit didalam tubuhnya tanpa menunjukkan adanya gejala penyakit tetapi orang tersebut dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain. Convalescant carriers adalah orang yang masih mengandung bibit penyakit setelah sembuh dari suatu penyakit.

Carriers adalah sangat penting dalam epidemiologi penyakit-penyakit polio, typhoid, meningococal meningitis dan amoebiasis. Hal ini disebabkan karena :
a. Jumlah (banyaknya carriers jauh lebih banyak daripada orang yang sakitnya
    sendiri).
b. Carriers maupun orang yang ditulari sama sekali tidak tahu bahwa mereka
    menderita / kena penyakit.
c. Carriers tidak menurunkan kesehatannya karena masih dapat melakukan
    pekerjaan sehari-hari.
d. Carriers mungkin sebagai sumber infeksi untuk jangka waktu yang relatif lama.

Reservoar pada Binatang

Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoar pada binatang pada umumnya adalah penyakit zoonosis. Zoonosis adalah penyakit pada binatang vertebrata yang dapat menular pada manusia. Penularan penyakit-penyakit pada binatang ini melalui berbagai cara, yakni :
a. Orang makan daging binatang yang menderita penyakit, misalnya cacing pita.
b. Melalui gigitan binatang sebagai vektornya, misalnya pes melalui pinjal tikus,
    malaria, filariasis, demam berdarah melalui gigitan nyamuk.
c. Binatang penderita penyakit langsung menggigit orang misalnya rabies.

Benda-Benda Mati sebagai Reservoar

Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoar pada benda-benda mati pada dasarnya adalah saprofit hidup dalam tanah. Pada umumnya bibit penyakit ini berkembang biak pada lingkungan yang cocok untuknya. Oleh karena itu bila terjadi perubahan temperatur atau kelembaban dari kondisi dimana ia dapat hidup maka ia berkembang biak dan siap infektif. Contoh clostridium tetani penyebab tetanus, C. botulinum penyebab keracunan makanan dan sebagainya.

2.2 Sumber Infeksi dan Penyebaran Penyakit

Yang dimaksud sumber infeksi adalah semua benda termasuk orang atau binatang yang dapat melewatkan / menyebabkan penyakit pada orang. Sumber penyakit ini mencakup juga reservoar seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Macam-Macam Penularan (Mode of Transmission)

Mode penularan adalah suatu mekanisme dimana agen / penyebab penyakit tersebut ditularkan dari orang ke orang lain atau dari reservoar kepada induk semang baru. Penularan ini melalui berbagai cara antara lain :

2.2.1 Kontak (Contact)

Kontak disini dapat terjadi kontak langsung maupun kontak tidak langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi. Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui kontak langsung ini pada umumnya terjadi pada masyarakat yang hidup berjubel. Oleh karena itu lebih cenderung terjadi di kota daripada di desa yang penduduknya masih jarang.

2.2.2 Inhalasi (Inhalation)

Yaitu penularan melalui udara / pernapasan. Oleh karena itu ventilasi rumah yang kurang, berjejalan (over crowding) dan tempat-tempat umum adalah faktor yang sangat penting didalam epidemiologi penyakit ini. Penyakit yang ditularkan melalui udara ini sering disebut air borne infection (penyakit yang ditularkan melalui udara).

2.2.3 Infeksi

Penularan melalui tangan, makanan dan minuman.

2.2.4 Penetrasi pada Kulit

Hal ini dapat langsung oleh organisme itu sendiri. Penetrasi pada kulit misalnya cacing tambang, melalui gigitan vektor misalnya malaria atau melalui luka, misalnya tetanus.

2.2.5 Infeksi Melalui Plasenta

Yakni infeksi yang diperoleh melalui plasenta dari ibu penderita penyakit pada waktu mengandung, misalnya syphilis dan toxoplasmosis.

2.3 Faktor Induk Semang (Host)

Terjadinya suatu penyakit (infeksi) pada seseorang ditentukan pula oleh faktor-faktor yang ada pada induk semang itu sendiri. Dengan perkataan lain penyakit-penyakit dapat terjadi pada seseorang tergantung / ditentukan oleh kekebalan / resistensi orang yang bersangkutan.

2.4 Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular

Untuk pencegahan dan penanggulangan ini ada 3 pendekatan atau cara yang dapat dilakukan :

2.4.1 Eliminasi Reservoir (Sumber Penyakit)

Eliminasi reservoir manusia sebagai sumber penyebaran penyakit dapat dilakukan dengan :
a. Mengisolasi penderita (pasien), yaitu menempatkan pasien di tempat yang
    khusus untuk mengurangi kontak dengan orang lain.
b. Karantina adalah membatasi ruang gerak penderita dan menempatkannya
    bersama-sama penderita lain yang sejenis pada tempat yang khusus didesain
    untuk itu. Biasanya dalam waktu yang lama, misalnya karantina untuk penderita
    kusta.

2.4.2 Memutus Mata Rantai Penularan

Meningkatkan sanitasi lingkungan dan higiene perorangan adalah merupakan usaha yang penting untuk memutus hubungan atau mata rantai penularan penyakit menular.

2.4.3 Melindungi Orang-Orang (Kelompok) yang Rentan

Bayi dan anak balita adalah merupakan kelompok usia yang rentan terhadap penyakit menular. Kelompok usia yang rentan ini perlu lindungan khusus (specific protection) dengan imunisasi baik imunisasi aktif maupun pasif. Obat-obat profilaksis tertentu juga dapat mencegah penyakit malaria, meningitis dan disentri baksilus.

Pada anak usia muda, gizi yang kurang akan menyebabkan kerentanan pada anak tersebut. Oleh sebab itu, meningkatkan gizi anak adalah juga merupakan usaha pencegahan penyakit infeksi pada anak.

Update : 12 Juli 2006

Sumber :

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.





BAB I
MASALAH KESEHATAN AKIBAT PEMBANGUNAN 
A.  Latar belakang
          Dengan semakin majunya hasil-hasil pembangunan di Indonesia, kehidupan sosial timbal-balik ikut terngakai makin maju. Kemajuan ditopang oleh penerapan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Seiring dengan perkembangan ini, cakrawala berfikir masyarakat Indonesia terhadap keadaan lingkungan disekitar juga ikut berubah.
             Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional, maka pembangunan kesehatan ditujukan kepada peningkatan pemberantasan penyakit menular dan penyakit rakyat, peningkatan keadaan gizi rakyat, peningkatan pengadaan air minum, peningkatan kebersihan dan kesehatan lingkungan, perlindungan obat yang tidak memenuhi syarat, serta penyuluhan kesehatan masyarakat untuk memasyarakatkan perilaku hidup sehat yang dimulai sedini mungkin
Dengan demikian maka dengan pembangunan kesehatan dapat tercapai mutu dan lingkungan hidup yang optimal bagi setiap penduduk agar mampu mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, yang meliputi kesehatan badaniah dan rohaniah serta kehidupan yang sejahtera dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacad dan kelemahan.
             Akibat dari pertambahan penduduk dari kegiatan manusia yang beraneka ragam membuat usaha perbaikan kesehatan lingkungan menjadi bertambah sulit dan kompleks, disamping harus juga mengembangkan bidang-bidang usaha tersebut agar dapat cepat tanggap terhadap perubahan dan kemajuan lingkungan sekitar.
Karenanya dalam menanggulagi permasalahan bidang kesehatan lingkungan diperlukan pendekatan yang bersifat menyeluruh dan multi disiplin, mengingat bahwa aspek-aspek yang dicakupnya cukup luas dan beraneka ragam


 
Permasalahan
  1. Pengaruh pembangunan bagi kesehatan lingkungan
  2. Dampak pencemaran polusi udara bagi lingkugan sekitar
  3. Pengaruh pembangunan bidang makanan bagi kesehatan
Tujuan
    1. Untuk mengetahui dampak-dampak akibat dari pembangunan dari segala bidang
    2. Memahami tentang kesehatan lingkungan dan pengaruh kesehatan lingkungan bagi masyarakat

B. Kesehatan Lingkungan

         Kesehatan lingkungan dapat dilihat dari berbagai segi, tergantung dari mata angin yang ingin memulai. Kesehatan lingkungan dari “frame-work” melalui konsep pendekatan ekologis yaitu dikenal dengan “the nature of man environment relationship”,namun bagi pendekatan tersebut terakhir ini kesehatan lingkungan dilihat sebagai kumpulan program maupun kegiatan kesehatan dalam rangka upaya manusia melalui teknologisnya menciptakan suatu kondisi kesehatan yang kemudian dikenal sebagai kesehatan lingkungan.
Dalam kaitannya dengan masalah ini kita menempatkan terminology kesehatan lingkungan dalam deretan akronim setingkat dengan kesehatan kerja, kesehatan jiwa, kesehatan angkasa dan lain sebagainya. Diasmping kesehatan lingkungan itu dapat dikaji dari segi pendekatan ekologis maupun pendekatan operasional, ternyata kita masih dapat mengkaji dari pendekatan perkembangan ilmu terapan baru (applied science) yang bersifat komprehensif (pendekatan multi disiplinner).
Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dibidang lingkungan (Ecology) kita lebih menekankan system tersebut pada arti interaksi antar elemen didalamya. Interaksi yang senantiasa bersifat dinamis sehingga sering dijabarkan dalam pengertian “interactions between environment and mans biological system”
            Bertitik tolak dari model timbangan Gordon, kemudian dimodifikasikan pada suatu model lanjutanya dijelaskan oleh empat factor, yaitu:
    1. Faktor penentu kahidupan atau life support
    2. Aktifitas manusia atau man’s activites
    3. Bahanbuangan & residu karena kehadiran adan aktifitas manusia (residues and wastes
    4. Gangguan lingkungan (environmental hazard s)
            Dalam pendekatan ekologis ini justru menekanakan titik masalah pada man’s activities. Dari titik ini terdapat komunikasi dua arah yang masing-masing dapat ke arah Life Support, Residues and Wastes serta Gangguan Lingkungan.
Namun di lain pihak dari segi kausal tidak digambarkan adanya interaksi antar-antar faktor.
          Di dalam kaitan ini, kesehatan lingkungan menempatkan dan menggantungkan diri pada keseimbangan ekologi, sehingga karenanya berusaha menjalin suatu keseimbangan interaksi manusia dengan lingkungannya pada tarap optimal dan batas-batas tertentu untuk menjamin kehidupan yang tetap sehat (well being). Kehidupan yang sehat meliputi baik dimensi kesehatan fisik, kesehatan mental maupun hubungan sosial yang optimal dengan lingkungan sekitar.Bila kondisi yang optimal dapat dicapai karena timbulnya interaksi yang “menekan” kehidupan, maka kesehatan lingkungan sampai batas-batas dimungkinkan dapa menyerasikan diri melalui berbagai upaya.
Perubahan yang sesungguhnya ditimbulkan oleh manusia sendiri pada umumnya, dan dipengaruhi oleh:
    1. Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, yang sering dikenal dengan istilah “peledakan penduduk” dengan segala implikasi kaitannya lebih lanjut.
    2. Urbanisasi, yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang terjadi pada kota-desa, dimana dampaknya tidak saja dirasakan bagi system kehidupan kota melainkan juga ikut merugikan kehidupan sistem pedesaan sendiri.
    3. Industrialisasi, yang menimbulkan berbagai mata rantai implikasi serta sebagai akses secara luas.
    4. Perkembangan teknologi yang sangat cepat, khususnya bagi negara-negara yang sedang berkembang yang belum dapat menyiapkan diri dalam sistem sosialnya (infra structural).
    5. Kebutuhan yang “meningkat” dari masyarakat untuk memaksakan meningkatkan standart kehidupan, pada hal syarat-syarat untuk mendukung ini juga belum disiapkan.
          Walaupun demikian ada tiga pokok yang dapat dilakukan dalam mengembangkan upaya-upaya kesehatan lingkungan  yaitu :
    1. Di mana dimungkinkan gangguan-gangguan yang dapat berakibat terhadap kesehatan lingkungan perlu di cegah.
    2. Apabila gangguan tersebut telah ada, langkah berikutnya adalah mengusahakan mengurangi atau meniadakan efeknya terhadap kecenderungan timbulnya penyakit didalam masyarakat.
    3. Mengembangkan lingkungan yang sehat, khususnya pada daerah-daerah padat melalui sistem perencanaan dan pengendalian yang mudah terhadap pemukiman,perumahan dan fasilitas rekreasi yang sesungguhnya bisa menjadi pusat kunjungan manusia dan sumber penularan.
      


 
        Dengan demikian pendekatan ekologis yang dapat dipertimbangkan sebagai masukan dalam suatu definisi kesehatan lingkungan. Kesehatan lingkungan yang mempunyai dimensi yang luas dan berbeda berdasarkan faktor kemampuan pelaksanaanya dimasing-masing negara.
C.   Pembangunan di bidang makanan / sanitasi makanan
          Sanitasi makanan merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam segala aktivitas kesehatan masyarakat, mengingat adanya kemungkinan penyakit-penyakit akibat makanan, kebiasaan-kebiasaan taradisional dalam mengelola makanan masih menjadi masalah yang utama dalam masyarakat selama belum ada cara pengganti yang berkenan. Dalam kehidupan manusia makanan mempunyai peranan penting dan peranan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
      1. Setiap manusia memerlukan makanan untuk kelangsungan hidupnya.
      2. Manusia yang terpenuhi semua kebutuhan makanannya akan terlindung dan terjamin kesehatannya sehingga memiliki produktifitas kerja yang optimal.
      3. Bahan makanan dapat merupakan media perkembang biakan kuman penyakit atau dapat juga merupakan media perantara dalam penyebaran suatu makanan.
        Sanitasi makanan meliputi kegiatan usaha yang ditujukan kepada kebersihan dan kemurnian makanan agar tidak menimbulkan suatu penyakit. Usaha-usaha sanitasi tersebut meliputi tindaka-tindakan saniter yang ditujukan pada semua tingkatan, sejak makanan mulai dibeli, disimpan, diolah, dan disajikan untuk melindungi agar konsumen tidak dirugikan kesehatanya.
1  Pengaruh Makanan Terhadap Kesehatan
        Makanan merupakan salah satu pokok kebutuhan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, makanan merupakan hal yang penting bagi manusia.
Pentingnya makanan bagi manusia, selain itu dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
        
 
         Di tinjuau dari segi kesehatan, kegunaan makanan adalah sebagai sumber zat makanan. Zat makanan mempunyai fungsi sebagai berikut:
    1. Sumber energi.
    2. Zat pembangun.
    3. Zat pengatur.
Di tinjau dari fungsi makanan adalah sangat penting bagi manusia untuk mengkonsumsi makanan itu, namun jika makanan yang dikonsumsi tersebut melebihi batas akan menimbulkan masalah tersendiri bagi kesehatan manusia itu sendiri.
Namun, soal nutrisi yang nampak di permukaan bisa mengicu, jalinan antara bagaimana orang di negara-negara industri makanan dan bagaiman mereka hidup dan mati telah membuat sebagian orang meragukan “makanan mewah”
         Ciri-ciri yang paling banyak diperkirakan menandai menu mewah adalah kadar lemak yang tinggi, terutama lemak hewani dan kolesterol. Seperti diketahui oleh banyak orang makanan yang digoreng dengan rasa gurih, keju serta minyak selada yang mengandung lemak serta produksi-produksi yang terbuat dari susu juga menambahakan banyak lemak kedalam menu.
Jenis dan jumlah lemak yang kita makan sangat berpengaruh atas kesehatan. Konsumsi lemak jernih dalam jumlah yang tinggi dan terutama berasal dari produksi hewani bisa menimbulkan bermacam penyakit. Lemak yang tidak jernih nampaknya tak begitu berbahaya bagi kesehatan, tapi itu tetap berbahaya jika dikonsumsi terlalu banyak.
            Seiring dengan gaya hidup “menu mewah” konsumsi kalor pun akan semakin tinggi dan bisa mengakibatkan obesitas, yang akhirnya dapat menyebabkan diabetes, tekanan darah tinggi serta penyakit jantung koroner.
Menu yang kaya akan lemak binatang bisa menimbulkan serangan jantung atau kelumpuhan yang akhirnya, lemak menu yang berlebihan bisa juga dihubungkan  dengan kanker perut, dada, prostat, serta kanker lainya.

 
        Namun, jumlah yang meningkat dari dari orang yang mengalami obesitas  bukanlah semata-mata soal bagaiman mengubah gaya hidup, persediaan makanan atau sikap mengenai berat yang ideal
Walaupun pertimbangan kesehatan itu sendiri sudah cukup untuk mengubah menu mewah, masih ada dua pertimbangan lainya yang membuat perubahan-perubahan itu menjadi lebih menarik, yang pertama adalah penghematan menu keluarga, baik pengurangan konsumsi daging maupun mengutamakan sayur-sayuran dari pada protein hewani yang akan mengirit pengeluaran. Yang kedua adalah pengurangan nutrisi yang berlebih sediktnya bisa membantu nutrisi rendah.
2.   Pengaruh polusi udara terhadap kesehatan lingkungan
      Kendaraan bermotor merupakan sumber pencemaran yang mempunyai pengaruh sangat besar bagi lingkungan, antar lain karena membebaskan hidrokarbon, oksida nitrogen, oksida sulfur dan lain-lain. Khusunya hidro karbon dan nitrogen oksida di udara akan membentuk ozon maupun bereaksi dengan ozon itu sendiri melalui proses “photo chemical process”
Dengan semakin padatnya suatu kota metropolitan yang dikelilingi oleh pencakar langit diantara jalan-jalan yang relativ sempit justru dapat memicu timbulnya “bottle neck” atau stagnasi. Karenaya akan sering terlihat diatas jalan semacam asap keputi-putihan yang diistilahkan dengan terminology “smog”. Asap tersebut sesungguhnya adalah suatau hasil dari apa yang disebut “photochemical smog”
        Polusi udara bisa menjadi masalah yang gawat diberbagai kota kota besar dimana mayoritas penduduknya sangat miskin, penelitian di kalkuta, India mengungkapkan bahwa konsentrasi karbon monoksida dijalanan pada jam-jam sibuk mencapai tingkat-tingkat yang lebih tinggi dari pada pada jam-jam lenggang.
Tak seorangpun yang meragukan bahaya tingginya konsentrasi zat-zat seperti limbah hitam tau karbon monoksida, juga tak seorangpun yang meragukan bahwa konsentrasi yang tinggi dari oksida sulfur dengan zat tertentu menggalakan gajala-gejala penyakit pernafasan dan penyakit jantung dan ada kalanya membawa maut.
 
Jika di pertimbangkan secara terpisah, meskipun masa-masa polusi yang parah tersebut melelehkan dan sulit dipahami itu semua tak memberikan bukti yang meyakinkan bahwa polusi merupakan penyebab penyakit. Itulah sebabnya, maka lonjakan tingkat-tingkat kematian membuktikan bahwa polusi yang parah hanyalah menggalakan penyakit-penyakit yang ada.
Secara logika, udara kotor pasti mempengaruhi paru-paru,itulah sebabnya maka peranan polutan, terutama oksida sulfur dan zat-zat partikulat dalam merangsang penyakit-penyakit pernafasan telah mendapat cukup perhatian.
            Polusi udara tidak hanya merangsang berbagai penyakit kronis, tetapi juga dapat menggalakan seringya orang banyak, terutama anak-anak yang terkena penyakit-penyakit pernafasan jangka pendek.
Kontribusi polusi udara dala menimbulkan kematian akibat penyakit jantung koroner semakin disadari, kematian ekstra banyak terjadi dikalangan para penderita jantung. Selama berlangsungnya krisis polusi udara, mungkin antara lain disebabkan karena sesak nafas.
            Buangan industri ada kalanya mengandung sejumlah agen karisinogen yang sudah di ketahui, akan tetapi sejumlah unsure dalam kabut fotokemis belum pernaha diidentifikasi, apalagi diuji.
Zat partikulat dalam udara sudah di kaitkan secara statistik dengan kanker perut, kanker pada kelenjar prostat dan sejumlah peneliti memberikan hipotesa bahwa oksida nitrit di udara bisa berpadu dengan polutan-polutan kimia lainnya.
 
3.   Perubahan Ekosistem Terhadap Kesehatan Lingkungan
           Dari pendekatan ekologis, kesehatan linhkungan banyak tergantung dan dipengaruhi oleh berbagai ekosistem. Secara umum dapat dikatakan bahwa perubahan-perubahan yang masih dalam batas-batas wajar belum mendorong keseimbangan ekologis dan masih dapat ditolerir oleh kemampuan daya tahan ( eksistensi) organisme melalui mekanisme adaptasi.
Namun nanti bila keseimbangan kedua ini masih juga diperluas sampai batas tertentu barulah perubahan lingkungan dengan dampak stabilitasnya, ini mengganggu kesehatan.
Pada kondisi ini sudah tiba pada perubahan stabilitas lingkungan, biasanya kualitas lingkungan sudah sedemikian bergeser, sehingga tidak mampu lagi memenuhi daya dukung kehidupan.
        Beberapa hal yang dapat menimbulkan berbagai perubahan ekosisrem antara lain:
  1. Sampah buangan domestik.
  2. Sampah industri anorganik.
  3. Sampah industri organik.
  4. Sampah radio aktif yang bisa dihasilkan dari ekses sampingan dari pusat-pusat pembangkit tenaga.
  5. Sampah khusus pestisida
  6. Sisa deterjent
  7. Sisa minyak bumi, mulai dari bensin sampai pelumas maupun minyak cat.
  8. Buangan air gelontor yang panas yang membawa dampak termis terhadap kehidupan air.
  9. Berbagai sampah padat.
  10. Pembebasan berbagai gas, baik dari industri, pusat-pusat pembakaran, dan system tranportasi.
  11. Dan lain-lain.
           Dengan makin majunya kehidupan modern yang berlatar belakang konsumtif berkelebihan, timbulah kemudian berbagai industri, pusat-pusat pengembangan ekonomi dan lain-lain yang pada hakekatnta timbal-balik masih menimbulkan berbagai mata rantai perubahan terhadap ekosistem yang ditinggalkan. Perubahan yang mau tidak mau sesungguhnya banyak mempengarui keseimbangan kesehatan lingkungan.
Berbagai implikasi tersebut garis besarnya berkisar antara pada masalah industrialisasi, mobilitas manusia yang terus meningkat, diskonkruensi masalah kependudukan terhadap daya dukung yang makin melebar dan lain-lain.
Implikasi ini ternyata menimbulkan berbagai mekanisme yang beraneka ragam terhadap stabilitas dan kuantitas ekosistem udara yang memiliki pola-pola khusus yang khas.
           Dengan adanya implikasi ini udara mengalami baik perubahan susunan kompisisinya dari segi kimiawi, perubahan temperatur dan kelembaban udara maupun segala aspek estetika dari pandangan udara yang makin suram. Bahwa hubungan antara makin banyaknya industrialisasi (yang dikonversikan sebagai sumber yang menggunakan enersi) dengan emisi oksida nitrogen tiap-tiap hari berdasarkan model empiris yang pernah diteliti.
Msalah debu atau paetikulat pada daerah-daerah industri merupakanmasalah tersendiri. Asap industri justru dikeluarkan bukan secara intermittent atau sekali, melainkan serial berturut-turut tak terputus yang mempunyai efek sangat merugikan untuk kondisi kesehatan.
          Pengetahuan semacam ini sangat penting untuk para ahli kesehatan lingkungan yang nantinya bekerja dan ditempatkan dibagian perencanaan tata kota hingga adanya pengetahuan dasar superfisial masalah “industrial site”.




 
4  Perubahan Ekosistem Air Terhadap Lingkungan
     Dengan adanya pencemaran-pencemaran air tidak mustahil umumnya dikota-kota besar didalam memenuhi kebutuhan air minumnya menggunakan air kali, karena kesulitan air bersih. Air kali dewasa ini justru lebih banyak mengalami pencemaran, baik dengan bahan-bahan yang masih dapat dihilangkan  melalui cara-cara teknologi modern maupun yang tidaka dapat dieliminir sama sekali teknologis karena pertimbangan biaya yang mahal untuk prosesnya.
Namun ada beberapa cara/ prinsip-prinsip yang minimal dapat dengan mudah digunakan diperusahaan-perusahaan air minum dengan jalan apa saja yang disebut                                    
“Drink Water Treatment”.
       Air murni yang ada didalam tanah ini sebenarnya berasal dari kondensasi uap air atmosfir yang dikenal sebagai air hujan. Air hujan ini kemudian membawa debu-debu, gas-gas CO2 dan O2 dari atmosfir serta bakteri-bakteri dari udara. Ketika sampai dipermukaan daratan justru lebih dicemarkan lagi dengan bahan-bahan organic lainnya, sebagian air akan diorganisir kedalam tanah dan sebagian tergenang atau di alirkan pada permukaan bumi melalui aliran-lairan air.
Selama dalam dataran tanah, baik sebagai iar permukaan atau sebagai air tanah terus-menerus mempunyai kecenderungan menjadi air kotor. Lebih-lebih di daerah industri yang banyak di buang “air limbah”
        Selama dalam tanah air ini lebih dikotorkan dengan berbagai pencemar antara lain:
    • Gas-gas yang larut dalam air, seperti gas CO2, H2S, Metan, O2, dan Nitrogen.
    • “Dissolved Mineral”, seperti Ca, Mg, Fe, Na, Mn, Karbohidrat-karbohidrat, sulfat, florida, nitrat, silikat, maupun lain-lain mineral atau persenyawaan bahan-bahan yang dibebaskan oleh industri-industri (Waste Product).
     Karenanya ditinjau dari adanya kecenderungan industrialisasi maupun kemungkinan-kemungkinan pencemaran air karena adanya perubahan ekositem ini, perlu adanya perlindungan air tanah dewasa ini.
 
Mengingat air dewasa ini mempunyai “nilai sosial ekonomi” bagi segala kebutuhan hidup, maka berlakunya system andal dalam persiapan pendirian industri mutlak diperlukan.

D. Bahan diskusi

    1. Menurut teori, kesehatan lingkungan menempatkan dan menggantungkan diri pada keseimbangan ekologi agar terjalin satu keseimbangan antar manusia dengan lingkungan sekitar untuk menjamin lingkungan dan kehidupan yang sehat (well being).
Tetapi pada kenyataannya hubungan antara manusia dengan lingkungan     sekitar merupakan “ simbiosis paratisme “ atau lebih dikenal dengan hubungan yang merugikan, karena selama ini semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia dan aktifitasnya membawa dampak yang kurang sehat bagi lingkungan sekitar.
Sebagai contoh: banyak industri-industri yang ada menimbulkan menimbulkan pencemaran bagi lingkungan sekitar, baik pencemaran secara cair, pencemaran secara udara dan semua pencemaran tersebut nantinya akan menimbulkan dampak yang tidak sehat bagi manusia dan lingkungan sekitar. Meskipun selama ini pencemaran udara banyak ditimbulkan oleh industri-industri, tapi tidak menutup kemungkinan untuk kendaraan bermotor untuk mencemari lingkungan sekitar dan itu merupakan ancaman pencemaran terbesar untuk beberapa tahun kemudian.
    1. Dewasa ini banyak masyarakat yang tidak menyadari bahaya dari “menu mewah” yang selama ini menjadi andalan bagi sebagian kalangan masyarakat, meskipun banyak masyarakat yang mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kelebihan nutrisi dari menu tersebut.

E. Penutup

Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat di peroleh kesimpulan sebagai berikut:
      1. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dibidang lingkungan  akan  dapat menenkan interaksi yang dinamis antara manusia dengan lingkungan.
      2. Kerugian terhadap adanya pencemaran udara yang ditimbulkan oleh industialisasi maupun polutan akan menimbulkan perubahan suhu dan iklim udara, sehingga berpengaruh besar terhadap fisiologi tubuh.
      3. Pengerusakan sumber daya air oleh ekses industrialisasi harus dibatasi, karena dampaknya ikut memberi beban terhadap kepentingan kesehatan lingkungan.
Kerugian terhadap dampak “menu mewah” dan kelebihan nutrusi dapat lebih ditekan melalui penghematan nutrisi dan membiasakan hidup hemat sejak dini, dengan tidak melupakan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh, sehingga kesehatan  manusia akan dapat lebih ditingkatkan.

METODE PENELITIAN SURVEY


Dalam kamus disebutkan pengertian survey, yaitu tindakan mengukur atau memperkirakan. Namun dalam penelitian survey lebih berarti sebagai suatu cara melakukan pengamatan di mana indikator mengenai variabel adalah jawaban-jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan kepada responden baik secara lisan maupun tertulis. Survey biasanya dilakukan satu kali. Peneliti tidak berusaha untuk mengatur atau menguasai situasi. Jadi perubahan dalam variabel adalah hasil dari peristiwa yang terjadi dengan sendirinya.
Penelitian survey termasuk ke dalam jenis penelitian deskriptif (lihat Rachmat, 1987), meskipun dalam survey sudah banyak dikembangkan menjadi penelitian-penelitian yang sudah mulai melakukan ‘inferensial’, melakukan prediksi tertentu. Contoh soal: Sensus penduduk biasanya dilakukan setiap lima tahun dan menjelang pemilihan umum. Di antara sensus yang dilakukan lima tahun sekali, biasanya dilakukan SUPAS (survey penduduk antar sensus). Karena hanya survey, maka berlaku teknik sampling. Tidak semua pendudiuk dijadikan responden. Dalam hal ini hasil survey diharapkan sanggup ‘menginferens, meramalkan dalam tingkatan tertentu terhadap situasi dan kondisi kependudukan pada umumnya.
Pada halaman berikutnya adalah bagan proses survey. Bagan seperti ini tidak harus selalu tetap alurnya, namun pada umumnya tidak akan berbeda jauh dengan kenyataan di lapangan, yaitu kegiatan sebelum, selama, dan setelah melakukann kegiatan penelitian di lapangan. Prosedurnya cukup rumit dan terkadang membingungkan peneliti, karena banyaknya arus atau alur kerja yang perlu dijalani. Mulai dari tahap merumuskan masalah hingga menyangkut penentuan wilayah penelitian, pengumpulan data dan analisis data, serta interpretasi data. Disamping itu masalah perijinan juga tidak bisa dianggap sepele, karena tanpa ijin dari instansi terkait, biasanya kegiatan penelitian mendapat banyak hambatan.

Survey Sampling
Survey sampling artinya kegiatan survey yang menggunakan sampling. Di sini maksudnya adalah tidak semua unit analisis dalam populasi diamati satu per satu, akan tetapi hanya sebagian saja, yang diwakili oleh sampel. Proses pengambilan sampel dikenal dengan teknik sampling. Ukuran sampel bisa beragam karena bergantung kepada berbagai faktor dan pertimbangan, baik teknik maupun statistik.

Istilah Teknis
Objek (atau subjek) penelitian disebut unit analisis, bisa berupa orang secara perorangan, kelompok, desa, kota, wilayah, jajaran katalog kartu, nomor klasifikasi, buku, dsb. Jumlah keseluruhan unit analisis ini disebut populasi atau universe. Setiap entitas (satuan) dari populasi yang merupakan sasaran sampling disebut sampling element (unsur sampling), baik tunggal maupun kolektif. Sedangkan yang dimaksud dengan kerangka sampling adalah daftar semua unit yang digambarkan dalam sampling secara lengkap.
Kalau populasinya adalah jumlah penduduk kota Bandung, maka kerangka samplingnya adalah seluruh penduduk tersebut dari nomor satu hingga ke nomor terakhir. Misalnya 3 juta penduduk. Berat bukan, jika tidak dilakukan sampling.
Sampel adalah sebagian dari penduduk yang secara sampling ditetapkan menjadi unit sampling. Misalnya hanya 2500 orang. Itu adalah contoh sampling. Secara teknis hal ini akan dibicarakan pada bagian tersendiri.

Sampel Dan Populasi Dalam Survey
  1. Kepentingan praktis, teoretis
  2. Meninjau teoriterdahulu
  3. Memilih variabel
  4. Studi percontohan
  5. Definisi konsep
  6. Perbaiki teori
  7. Publikasi hasil-hasil
  8. Penemuan kesimpulan
  9. Susun pertanyaan
  10. Studi percontohan
  11. Perbaiki pertanyaan, definisi
  12. Uji validitas dan reliabilitas
  13. Menyusun jadwal wawancara atau kuesioner
  14. Melatih pewawancara
  15. Tetapkan populasi
  16. Tetapkan sampel
  17. Sediakan dan Peroleh ijin
  18. Kumpulkan data, ajukan pertanyaan
  19. Buat kode jawaban, reduksi
  20. Analisis data, uji hipotesis
  21. Kesimpulan statistik




Membuat Kuesioner
Salah satu instrumen pengumpul data dalam penelitian adalah kuesioner, atau disebut juga daftar pertanyaan (terstruktur). Kuesioner ini biasanya berkaitan erat dengan masalah penelitian, atau juga hipotesis penelitian yang dirumuskan. Disebut juga dengan istilah pedoman wawancara (interview schedule), namun kita akan menggunakan istilah generiknya yaitu kuesioner.
Sebelum mebuat kuesioner, ada baiknya peneliti mengantisipasi kemungkinan
adanya kesalahan yang sering terjadi berkaitan dengan pelaksanaan pengumpulan data dari responden. Beberapa permasalahan yang mungkin dan bahkan sering terjadi dan bagaimana cara memperbaikinya adalah sebagaimana disarankan oleh Bailey (1987), sebagai berikut:
a.       Responden sering menganggap wawancara tidak masuk akal dan bahkan sering menganggapnya sebagai dalih (subterfuge) untuk tujuan-tujuan tertentu misalnya komersial. Alternatif pemecahannya antara lain adalah menyampaikannya dalam pengantar bahwa penelitian yang akan dilakukan benar-benar untuk tujuan nonkomersial. Tentu saja dengan kata-kata yang baik dan sopan.
b.       Responden merasa terganggu dengan adanya informasi yang dirasa menyerang dirinya atau kepentingannya, misalnya takut dirilis di media massa. Pemecahannya adalah menghindari pertanyaan yang sensitif, serta diyakinkan bahwa tidak akan ada nama responden di dalamnya.
c.       Responden menolak bekerja sama atas dasar pengalaman masa lalu. Upayakan untuk meyakinkan responden bahwa ini beda, beri pengertian bahwa responden dalam hal ini turut berjasa dalam membantu penelitian ini.
d.      Responden yang tergolong dirinya kelompok minoritas sehingga merasa lelah karena sering dijadikan kelinci percobaan (guinea pig). Ini jarang terjadi di negeri kita. Namun jika hal seperti ii terjadi, peneliti bisa menggunakan instrumen lain., atau bahkan mencari sumber data yang lain.
e.       Responden orang ‘penting’ dan sering merasa tahu akan apa yang akan ditelitinya. Cara pemecahannya adalah dengan metode menyanjung orang penting tadi, misalnya dengan mengatakan bahwa hanya dialah orang satu-satunya yang bisa memberikan informasi tentang masalah ini.
f.        Responden menjawab dengan pertimbangan normatif, berpikir baik atau jelek. Katakan kepadanya bahwa penelitian ini semata-mata untuk pengembangan ilmu, dan bukan untuk kepentingan lain. Selain itu nama responden juta tidak perlu dicantumkan.
g.       Responden merasa takut akan ‘kebodohannya’ dalam menjawab pertanyaan ini. Katakan kepadanya bahwa jawaban apapun dari responden itu penting, dan tidak ada yang salah dalam menjawab.
h.       Responden mengatakan tidak ada waktu untuk menjawabnya, atau merasa itu bukan bidang minatnya. Pemecahannya adalah mengatakan bahwa dialah satu-satunya orang yang bisa memberikan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini.

Persyaratan lain dalam membuat kuesioner;
a.        Relevansi kuesioner: Relevansi pertanyaan dengan tujuan studi, relevan pertanyaan dengan responden secara perorangan.
b.        Relevansi pertanyaan dengan studi: betul
c.        Relevansi pertanyaan dengan responden: betul.

Kegagalan-kegagalan dalam membuat kuesioner:
(a) Luncuran pertanyaan ganda: Jangan menanyakan satu masalah dalam satu pertanyaan. Contoh, apakah anda sering menyobek buku di perpustakaan selagi tidak ada pengawas yang melihatnya; dan apakah anda juga sering mencoreti buku milik perpustakaan untuk kepentingan penjelasan secara khusus?.
(b) Pertanyaan yang mengaahkan: Hindari bentuk pertanyaan seperti ini. Contoh, menurut presiden, kita harus mengencangkan ikat pinggang dalam menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan ini. Anda setuju, bukan?. Pertanyaan seperti ini biasanya dijawab secara langsung dengan kata ‘setuju’. Bisa dibayangkan bahwa jika semua pertanyaan dijawab dengan setuju.
(c) Pertanyaan sensitif: Hati-hati dengan pertanyaan sensitif seperti contoh berikut: Anda pernah melakukan onani?; Anda pernah melakukan hubungan seks sebelum nikah?. Pertanyaan jenis ini termasuk kategori sensitif, bahkan kurang ajar.
(d) Pertanyaan yang menakut-nakuti: Contoh. Di daerah ini sering terjadi perampokan dan penodongan di malam hari. Bisa Anda sebutkan orangnya?; atau, Anda tentu mengetahui peristiwa pembunuhan yang terjadi beberapa waktu lalu di daerah ini, karena andalah yang paling dekat dengan tempat kejadian perkara (TKP). Kami datang untuk menyelidikinya, oleh karena itu tolong jawab dengan sejujurnya pertanyaan-pertanyaan kami.

Kuesioner Tertutup Dan Terbuka
Ada dua jenis pertanyaan dalam kuesioner, yakni pertanyaan terbuka, terbuka, dan gabungan tertutup dan terbuka. Pertanyaan dengan jawaban terbuka adalah pertanyaan yang memberikan kebebasan penuh kepada responden untuk menjawabnya. Di sini peneliti tidak memberikan satupun alternatif jawaban. Sedangkan pertanyaan dengan jawaban tertutup adalah sebaliknya, yaitu semua alternatif jawaban responden sudah disediakan oleh peneliti. Responden tinggal memilih alternatif jawaban yang dianggapnya sesuai.

a.  Kuesioner Dengan Jawaban Tertutup:
Salah satu keuntungannya untuk kuesioner ini adalah sebagai berikut:
(1)    jawaban-jawaban bersifat standar dan bisa dibandingkan dengan jawaban orang lain.
(2)    jawaban-jawabannya jauh lebih mudah dikoding dan dianalisis, bahkan sering secara langsung dapat dikoding dari pertanyaan yang ada, sehingga hal ini dapat menghemat tenaga dan waktu.
(3)    responden lebih merasa yakin akan jawaban-jawabannya, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak yakin.
(4)    jawaban-jawaban relatif lebih lengkap karena sudah dipersiapkan sebelumnya oleh peneliti; dan
(5)    analisis dan formulasinya lebih mudah jika dibandingkan dengan model kuesioner dengan jawaban terbuka. Meskipun demikian, ada juga kelemahannya, yakni:
a.        sangat mudah bagi responden untuk menebak setiap jawaban, meskipun sebetulnya mereka tidak memahami masalahnya.
b.        responden merasa frustrasi dengan sediaan jawaban yang tidak satu pun yang sesuai dengan keinginannya.
c.        sering terjadi jawaban-jawaban yang terlalu banyak sehingga membingungkan responden untuk memilihnya.
d.       tidak bisa mendeteksi adanya perbedaan pendapat antara responden dengan peneliti karena responden hanya disuruh memilih alternatif jawaban yang tersedia.
b.      Kuesioner Dengan Jawaban Terbuka:
Keuntungannya antara lain adalah:
(1)     dapat digunakan manakala semua alternatif jawaban tidak diketahui oleh peneliti, atau manakala peneliti ingin melihat bagaimana dan mengapa jawaban responden serta alasan-alasannya. Hal ini sangat baik untuk menambah pengetahuan peneliti akan masalah yang diutarakannya.
(2)     membolehkan responden untuk menjawab sedetil atau serinci mungkin atas apa yang ditanyakan peneliti. Dalam hal ini pendapat responden dapat diketahui dengan baik oleh peneliti.
c.       Kuesioner Dengan Jawaban Tertutup Dan Terbuka (Gabungan):
Untuk menjembatani kekurangan-kekurangan seperti tadi, maka sering digunakan pertanyaan model gabungan antara keduanya. Dengan model tertutup dan tebuka, semua kekurangan seperti tadi bisa diatasi. Misalnya dalam satu pertanyaan, disamping disediakan alternatif jawaban oleh peneliti, juga perlu disediakan alternatif terbuka (c. …………… ) untuk diisi sendiri oleh responden sesuai dengan pendapatnya secara bebas. Dalam mengolah data untuk model terakhir ini, bisa dilakukan pengelompokan ulang atas semua jawaban responden pada alternatif terbuka tadi. Atau bisa juga peneliti melihat ulang apakah jawaban responden yang terakhir itu sebenarnya sudah termasuk ke dalam salah satu alternatif jawaban yang tersedia. Dan jika ternyata jawabannya sama dengan salah satu alternatif jawaban yang tersedia namun dalam bahasa yang berbeda, peneliti bisa menganggapnya sebagai jawaban seperti pada alternatif yang tersedia tadi. Contoh sebuah pertanyaan sederhana dengan alternatif jawabannya: Tujuan Anda berkunjung ke perpustakaan adalah: (1) mengerjakan tugas-tugas akademik; (2) mencari informasi
akademik untuk kepentingan tugas dari dosen; (3) menambah wawasan; (4)
menambah pengetahuan. (Responden menjawab dengan tulisan sendiri
pada alternatif yang terbuka ini). Kita bisa melihat bahwa sebenarnya jawaban
responden tersebut sama atau hampir sama dengan alternatif nomor (3)
menambah wawasan.


Susunan pertanyaan
Ada aturan umum dalam menyusun urutan pertanyaan yang dibuat, meskipun
tidak mutlak, yakni sebagai berikut:
(a) Pertanyaan sensitif dan pertanyaan model jawaban terbuka sebaiknya
ditempatkan di bagian akhir kuesioner.
(b) Pertanyaan-pertanyaan yang mudah sebaiknya ditempatkan pada bagian awal
kuesioner.
(c) Susunlah pertanyaan dengan pola susunan yang saling berkaitan satu sama lain
secara logis.
(d) Susunlah pertanyaan sesuai dengan susunan yang logis, runtut, dan tidak
meloncat-loncat dari tema satu ke tema yang lain.
(e) Jangan gunakan pasangan pertanyaan yang mengecek reliabilitas. Misalnya,
setujukah Anda terhadap aborsi? Sementara itu di tempat lain, ada pertanyaan,
tidak setujukan Anda terhadap aborsi?.
(f) Gunakan pertanyaan secara singkat dan jelas, tidak bertele-tele.

Pertanyaan kontingensi
Maksudnya adalah bentuk pertanyaan yang masih ada kelanjutannya. Misalnya,
Anda pernah mabuk?. Jika pernah, bagaimana rasanya?. Jenis pertanyaan seperti ini
dimungkinkan adanya, namun harus berpatokan kepada kemungkinan adanya
hubungan tertentu antara tema yang satu dengan tema yang lain. Selain itu, jawaban-
jawaban dari responden atas pertanyaan lanjutan ini akan sangat membantu
memperdalam wawasan peneliti.


Kata pengantar kuesioner
Kata pengantar dalam kuesioner banyak pengaruhnya terhadap keberhasilan
kuesioner tersebut. Kata-kata yang digunakan juga sangat mempengaruhi responden
dalam menjawabnya. Misalnya, kata pengantar yang kasar tentu tidak akan mendapat
simpati responden, bahkan mungkin ditolak.

Untuk itu, disarankan, gunakan kata-kata yang sopan, wajar, menghormat, dan
jangan terlalu panjang. Cukuplah misalnya, beberapa kalimat pengantar, tujuan, dan
ucapan terima kasih atas kesediaan responden untuk menjawabnya.


Uji coba instrumen (kuesioner)
Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden, ujicobakanlah lebih dahulu
kepada sejumlah kecil responden. Ini gunanya untuk mengetahui validitas dan
reliabilitas alat ukur dimaksud. Selain itu, ini juga bisa digunakan untuk mengetahui
kemungkinan diterima atau ditolaknya hipotesis yang telah dirumuskan. Selain itu,
jika ternyata dalam uji coba ini terdapat banyak kesalahan, maka peneliti bisa
mengubah atau menyempurkannya.

Cursor

handapeunpost

fb-like blogger profil